GERAKAN PEMBAHARUAN di INDIA
(oleh Ismail dan Muchsin)
Pendahuluan
Penguasaan Inggris di India pada mulanya seiring dengan kultur masyarakat
Gerakan pembaharuan Islam di India dilatar belakang oleh: ajaran Islam sudah bercampur baur dengan paham dan praktek keagamaan dari Persia, Hindu atau Animisme dan lain – lain, pintu ijtihad tertutup, kemajuan kebudayaan dan peradaban Barat telah dapat dirasakan oleh orang-orang India, baik orang Hindu maupun kaum Muslimin, namun orang Hindu-lah yang banyak menyerap peradaban Barat, sehingga orang Hindu lebih maju dari orang Islam dan lebih banyak dapat bekerja di Kantor Inggris.
Terjadi kesenjangan antara islam dan hindu di India memunculkan gerakan pembaharuan dari umat islam diantaranya gerakan mujahidin dan lahirlah tokoh-tokoh pembaharuan di India seperti: Abdul Azis (1746-1823), Sayid Ahmad Syahid (1786-1831), Sayid Ahmad Khan (1817-1898), secara umum mereka meyuarakan persamaan derajat antara umat muslim India dan umat hindu di dalam pemerintahan colonial inggris.
Dalam makalah ini penulis akan memuat sekilas tentang gerakan pembaharuan umat muslim di India tokoh dan pemikiran mereka.Sebagai penyempurna makalah ini penulis mengharapkan kontribusi pemikiran dan saran yang membangun untuk perbaikan makalah ini
Salam Penulis
Pembahasan
A. Sejarah Lahirnya Gerakan Mujahidin di India
Seperti yang penulis kemukakan dipendahuluan terjadinya gerakan pembaharuan di
Sejak awal abad XVIII kekuasaan Islam Mongol yang berpusat di
Bangsa Inggris semenjak permulaan abad XVII telah tiba di
Dengan politik adu domba yang lihai, mereka berhasil.
Sayyid Ahmad dengan golongan Mujahidinnya mencoba memulai peperangan terhadap golongan sikh di India Utara. Peperangan ini berbuah kemenangan pada kelompok Mujahidin, mereka dapat menguasai Akora yang merupakan pusat kekuatan golongan Sikh.
Ide yang dimunculkan oleh Sayyid Ahmad ialah merubah sistem pemerintahan dari monarki kepada sistem imamah, yaitu negara dipimpin oleh seorang imam.
Sistem pemerintahan imamah dibentuk pada tahun 1827, dalam menjalankan tugasnya, imam mengangkat seorang khalifah sebagai wakilnya di kota-kota penting.
Diantara tugas mereka yaitu mengumpulkan zakat utnuk pemerintahan imam dan mencari mujahidin untuk meneruskan jihad[2].
Namun, sistem imamah yang didirikan oleh Sayyid Ahmad tidak bertahan lama, golongan Sikh menganggap gerakan Mujahidin mengancam kekuasaan mereka. Golongan Sikh di bantu oleh golongan-golongan non muslim seperti golongan Barakzai melangsungkan pertempuran di Balekot dan pada pertempuran inilah Sayyid Ahmad mati terbunuh.
Menurut Harun Nasution setelah meninggal Sayyid Ahmad, para pengikutnya terpecah menjadi dua golongan. Golongan pertama mereka bergerak di bidang pendidikan dengan mendirikan madrasah deoband, golongan ini berpendapat tidak cukup kekuatan untuk melanjutkan perjuangan. Namun demikian, madrasah deoband banyak memberikan pengaruh terhadap pembaharuan islam
B. Madrasah Deoband
Sepeninggalan Sayyid Ahmad Syahid, gerakan intelektual melawan kolonial Inggris terus dilakukan oleh para pengikut Sayyid Ahmad Syahid. Pada tahun 1857 madrasah Deoband melalui Mawlana Muhammad Qasim Nanantawi dan Mawlana Ishaq, seorang cucu dari Syah Abdul Aziz ditingkatkan menjadi perguruan tinggi.
Ide-ide Syah Waliullah yang kemudian ditonjolkan oleh sayyid Ahmad Syahid dan gerakan Mujahidin, itulah menjadi pegangan bagi Deoband[3].
Ide-ide itu meliputi:
Ø Bidang agama, pemurnian ajaran Islam
Ø Bidang politik dan pendidikan, Deoband mengambil sikap anti Inggris. Sikap anti inggris ini dilator belakangi oleh para pendiri deoband mayoritas pemuka gerakan mujahidin. Mereka mendirikan deoband untuk menentang pendidikan sekuler inggris dan juga sebagai reaksi terhadap usaha kristenisasi di
C. Gerakan Aligarh
1. Sayid Ahmad Khan (1817-1898)
Sayid Ahmad Khan lahir pada tahun 1817 Masehi keturunan dari Rasulullah Muhammad SAW, dari pihak Husein. Neneknya adalah seorang pembesar istana di zaman Alamghir II (1754-1759). Pendidikan yang ia tempuh melalui pendidikan tradisional dalam pengetahuan agama dan disamping bahasa Arab ia juga belajar bahasa Inggris.
Menurut pemikiran Sayid Ahmad Khan kemajuan ummat Islam bukan cara memusuhi Inggris dan bekerja sama dengan Hindu, tetapi harus dekat dengan orang-orang Inggris, karena kamajuan Islam tidak terlepas dari penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi modern. Sedangkan ilmu pengetahuan dan teknologi modern banyak dihasilkan oleh orang-orang Inggris. Penafsiran dan interpretasi yang diberikannya terhadap ajaran-ajaran Islam lebih dapat diterima oleh golongan terpelajar (Islam) dibandi dari hasil penafsiran yang lama atau sebelumnya.
Pemikirannya dalam keagamaan itu antara lain :
- Perkawinan menganut asas monogami, poligami bertentangan dengan semangat
- Islam dan hal ini tidak akan diizinkan kecuali dalam keadaan memaksa.
Islam dengan tegas melarang perbudakan, termasuk perbudakan dari tawanan perang, meskipun syariat memperkanankannya. - Bank Modern, transaksi perdagangan, pinjaman serta perdagangan internasional yang meliputi ekonomi modern, meskipun semua itu mencakup pembayaran bunga, tidaklah dianggap riba, karena hal itu tidak bertentangan dengan hukum Al-Qur’an.
- Hukum potong tangan yang didasarkan pada Al-Qur’an dan Sunnah bagi pencuri, lemparan batu serta cambukan 100 kali bagi pezina hanya sesuai dengan masyarakat primitif yang kekurangan tempat penjara atau tidak mempunyai penjara.
- Jihad itu dilarang kecuali dalam keadaan memaksa untuk mempertahankan diri.
Setelah Sayyid Ahmad Khan wafat pada tanggal 24 Maret tahun 1898, ide ide pembaharuan yang dicetuskan Sayyid Ahmad Khan dianut dan disebarkan selanjutnya oleh pengikut dan pada akhirnya lahirlah sebuah gerakan yang disebut Gerakan Aligarh Ada beberapa tokoh Aligarh yang berpengaruh dan melanjutkan ide-ide pembaharuan yang dicetuskan Sayyid Ahmad Khan, di antaranya:
2. Nawab Muhsin Al-Mulk
Setelah Sayyid Ahmad Khan menghadapi masa tua, pimpinan Muhammedan Angol Oriental Conference (M.A.O.C.) pindah ketangan Sayyid Mahdi Ali yang lebih dikenal dengan nama Nawab Muhsin Al-Mulk (1837-1907). Pada mulanya ia adalah pegawai Serikat India Timur, kemudian menjadi pembesar di
Di tahun 1863 ia berkenalan dengan Sayyid Ahmad Khan dan antara keduanya terjalin tali persahabatan yang erat. la banyak rnenulis artikel Tahzib Al Akhlaq dan kemudian juga di majalah yang diterbitkan M.A.O.C. la pindah ke
Muhsin al-Mulk tidak hanya membawa para ulama dekat dengan
Yang menjadi perbedaan faham keagamaan dan politik
Dari bidang politik Nawab Muhsin Al-Mulk jelas terlihat. Nawab Muhsin Al-Mulk tidak ragu-ragu memasuki bidang politik. Ini terlihat dari usahanya dalam membentuk Delegasi Umat Islam
Dalam bidang politik terlihat antara Sayyid Ahmad Khan dan Nawab Muhsin Al-Mulk mempunyai perbedaan prinsip, Sayyid Mahdi Ali yang lebih dikenal dengan Nawab Muhsin Al-Mulk ia tidak ragu-ragu dalam memasuki bidang politik. Dan sebaliknya, Sayyid Ahmad Khan berprinsip turut campur dalam bidang politik akan merugikan umat Islam
Adapun prestasi yang tidak dicapai pada masa Sayyid Ahmad Khan dan dicapai oleh Nawab Muhsin Al-Mulk di antaranya :
- Dalam bidang sosial keagamaan. Berubahnya sikap Deoband yang tadinya bersikap keras dalam mempertahankan taklid kepada para ulama’ klasik menjadi lebih melembut akan adanya perbedaan sikap yang berbeda dari k mereka,
- Dalam bidang pendidikan berhasil mempopulerkan gerakan
- Dalam bidang politik berhasilnya membentuk Delegasi Umat Islam
3. Viqar Al-Mulk
Pemimpin lain yang berpengaruh ialah Viqar al Mulk (1841 1917). Ia semenjak muda telah menjadi pembantu dan pengikut Sayyid Ahmad Khan. Di tahun 1907 ia menggantikan Nawab Muhsin AI Mulk dalam pimpinan M.A.O.C.(harun, 176)
Masa inilah terjadinya perubahan-perubahan besar dalam adminsitrasi Perguruan Tinggi Aligarh, bahkan dalam kebijaksanaan politik umat muslim
Viqar al-Mulk bernama Mushtaq Hussain yang lahir 1841, di Distrik
Pada masa Viqar ini terjadi pertentangan antara Viqar al -Mulk dengan Mr. Archbold yang menjadi Direktur M.A.O.C. di waktu itu. Dalam pertentangan ini Gubernur Daerah menyebelah Archbold sedang Viqar al Mulk disokong oleh Agha Khan serta Amir Ali dan selanjutnya oleh masyarakat Islam di luar. Archbold akhirnya terpaksa mengundurkan diri. Kekuasaan Iriggris di M.A.O.C. dari semenjak itu mulai berkurang. Pada masa Viqar inilah berakhirnya kontraversi tentang administrasi Perguruan Tinggi, dan di mulainya era baru bagi perjalanan
Ini berarti bahwa di masa Sayyid Ahmad Khan dan Nawab Muhsin Al-Mulk kekuasan besar yang menjadi direktur M.A.O.C. yang pada saat itu ialah orang Inggris, tetapi pada masa Viqar Al-Mulk kekuasan besar yang menjadi direktur M.A.O.C. yang dipegang oleh orang Inggris berkurang. Karena tersingkirnya orang Inggris (Archbold) yang menjadi direktur dalam M.A.O.C. yang mengundurkan diri akibat terjadinya pertentangan antara dia dengan Viqar Al-Mulk yang banyak mendapat dukungan atau sokongan dari masyarakat Islam di luar.
Viqar Al-Mulk populer di kalangan ulama’
Dalam pandangan politik ia tidak sama dengan Sayyid Ahmad Khan meskipun dahulunya ia sependapat bahwa Inggris lah yang dapat menciptakan kelanjutan wujud umat Islam
Tetapi terhadap partai Kongres Nasional India, pendiriannya tetap tidak berubah. Orang Islam harus mempunyai partai sendiri dan harus mempertahankan Liga Muslimin
4. Altaf Husain Ali
Tokoh
Ia menyebarkan ide – ide pembaharuan gerakan
Dalam bidang politik ia berpandangan bahwa umat Islam
Semangat patriotisme Hali ini terlihat dalam Syairnya: Jika Anda ingin kebaikan dari negerimu. Maka janganlah menganggap sebagai orang asing sesama patriot dari tanah airmu, Apakah ia Muslim atau Hindu, Apakah Budhis atau Brahma, Pandanglah mereka dengan mata persahabatan yang syahdu, Anggaplah mereka seperti bagian hitam dari matamu[10].
Dalam dunia pendidikan ia berbeda pendapat menurutnya pendidikan wanita ia lebih bersifat progresif. Sedangkan, Sayyid Ahmad Khan yang memandang kaum wanita belum perlu mendapatkan pendidikan sebagaimana kaum laki-laki.
5. Chiragh Ali
Chiragh Ali adalah murid Sayyid Ahmad Khan. Ia melakukan studi banding tentang Bibble dengan Al-Qur’an, sebagai upaya untuk berargumentasi dengan penganut kitab Bible. Ia juga melakukan penelitian kembali sumber-sember hukum Islam. Hasil dari penelitiannya menunjukkan bahwa Islam tidak terikat pada sistem sosial tertentu. Akhirnya ia pun memunculkan suatu penafsiran yang menyeluruh dan pembaruan dalam lapangan hukum dan politik yang didasarkan atas Al-Qur’an.
Menurutnya Al-Quran bukan merupakan penghalang kemajuan spiritual dan tidak melarang kebebasan berfikir di antara kaum muslimin serta bukan penghalang inovasi dalam segala aspek kehidupan baik dalam politik sosial, pemikiran maupun segi moral[11].
Ini berarti bahwa ia berpendapat Islam harus beradaptasi dengan kondisi zaman yang berubah-ubah, agar senantiasa mampu hadir ke tengah-tengah umat dalam menyelesaikan problematika kehidupan yang terjadi. Islam yang diajarkan oleh Nabi Muhammad di dalamnya terdapat elastisitas atau fleksibel yang memungkinkan bagi Islam untuk beradaptasi terhadap perkara politik dan sosial yang terjadi di sekitarnya. Tetapi Islam tidak menentukan sistem sosial atau politik tertentu. Inti pemikirannya tidak berbeda nyata dengan gurunya Sayyid Ahmad Khan
6. Maulvi Nazir Ahmad
Beliau termasuk orang menyebarkan ide –ide pembaharuan dengan cara yang berbeda yaitu melalui gerakan keilmiahan. Karangan - karangannya berkisar sekitar soal agama, budi pekerti, dan problem –problem sosial.
Maulvi berpendapat kemunduran umat Islam, terletak pada umat Islam itu sendiri dan bukan dating dari luar. Umat Islam tidak hidup lagi sesuai dengan ajaran-ajaran agama. Ia juga menerjemahkan Al-Qur’an dalam bahasa Urdu yang pada saat itu banyak dibaca dan berpengaruh pada masyarakat Islam
7. Muhammad Shibli Nu’mani
Muhammad Syibli Nu’mani (1857 1914) diangkat pada tahun 1883 sebagai Asisten Profesor Bahasa Arab di Aligarh. Ia mempunyai pendidikan madrasah tradisional dan pernah pergi ke Mekah dan Medinah memperdalam pengetahuannya tentang agama Islam. Setelah Sayyid Ahmad Khan wafat meninggal¬kan M.A.O.C.
Ketika di M.A.O.C. ia berjumpa dengan ide ide baru yang dikemukakan oleh Gerakan Aligarh dan tertarik padanya. Latar belakang pendidikan madrasahnya, membuat ia tidak mempunyai sikap se-liberal Sayyid Ahmad Khan. Tetapi ia tidak menentang pemakaian akal dalam soal-soal agama; mempelajari falsafat barat yakin bukanlah haram. Ulama-ulama zaman klasik juga mempelajari dan mengetahui falsafat. Mereka, demikian argumennya lebih lanjut, menyetujui pelajaran falsafat pemikiran modern dalam bentuk moderat dapat diterimany[12]a.
Pada tahun 1894 ia mendirikan “Nadwah Ulama” yang diawali dengan semangat yang tinggi. Sehingga, Suleman Nadwi, pengganti Syibli menyatakan bahwa “banyak orang percaya bahwa hal ini akan membawa kepada berdirinya pemerintahan ulama”. Inilah nampaknya gerakan tandingan yang pada akhirnya membawa
Banyak kritik-kritik yang dilontarkan Syibli kepada
Kritik Syibli yang membawa kepada sikap meninggalkan
Pada masa inilah, gaung
D. Gerakan Sayyid Amir Ali
Sayyid Amir Ali berasal dari keluarga Syi’ah yang di zaman Nadir Syah (1736 – 1747) pindah dari Khurasan di
Di tahun 1869 ia pergi ke Inggris untuk meneruskan studi dan selesai ditahun 1873 dengan memperoleh kesarjanaan dalam bidang hukum. Selesai dari studi ia kembali ke
Beliau tidak anti pati terhadap dunia politik bahkan ia memasuki dunia politik. Ini tercermin pada tahun 1877 ia membentuk National Muhammedan Association, sebagai wadah persatuan umat Islam dan untuk melatih mereka dalam bidang politik.
Amir Ali juga berpendapat dan berkeyakinan bahwa Islam bukanlah agama yang membawa kepada kemunduran sebaliknya Islam adalah agama yang membawa kepada kemajuan dan untuk membuktikannya ia mengajak meninjau kembali sejarah masa lampau bahwa agama bukanlah yang menyebabkan kemunduran dan menghambat kemajuan. Ia tidak menutup pintu ijtihad melainkan membuka pintu ijtihad. Pada pendapat lain juga memberikan pendapat bahwa menggunakan akal bukan suatu dosa dan kejahatan. Bahkan ia memberikan ayat-atat dan hadits-hadits untuk menunjang argumen –argumen untuk menyatakan bahwa ajaran - ajaran itu tidak bertentangan dengan pemikiran akal.
Sayyid Amir Ali untuk memajukan umat Islam ia berpendirian tidak ingin bergantung atau berkiblat kepada ketinggian dan kekuatan Barat seperti halnya dengan Sayyid Ahmad Khan. Sayyid Amir Ali dalam memajukan umat Islam ia berpatokan dan berkiblat pada ilmu pengetahuan yang dicapai oleh umat Islam di zaman itu, karena mereka kuat berpegang pada ajaran Nabi Muhammad Saw. dan berusaha keras untuk melaksanakannya.
Gerakan Muhammad Iqbal dan Jinnah
Muhammad Iqbal berasal dari keluarga golongan menengah di Punjab dan lahir di
Pada tahun 1908 ia berada kembali ke
Muhammad Iqbal berpendapat kemunduran umat Islam selama
Menurut Muhammad Iqbal hukum dalam Islam sebenarnya tidak bersifat statis, tetapi dapat berkembang sesuai dengan perkembangan zaman. Pintu ijtihad tidak pernah tertutup. Islam, menurut Iqbal pada hakekatnya mengajarkan dinamisme.
Dalam syair-syairnya ia mendorong umat Islam supaya bergerak dan jangan tinggal diam. Inti sari hidup menurutnya adalah gerak, sedangkan hukum hidup ialah menciptakan, maka ia berseru kepada umat Islam supaya bangun dan menciptakan dunia baru.
Di India terdapat dua umat besar, demikian menurut Iqbal.
Tetapi yang patut diingat bahwa bibit ide untuk membentuk Negara tersendiri sebelumnya sudah dalam ide politik yang ditimbulkan oleh Sayyid Ahmad Khan, tetapi ide dan tujuan membentuk Negara tersendiri diumumkan secara resmi dan kemudian menjadi tujuan perjuangan nasional umat Islam India ialah oleh Muhammad Iqbal Dan Jinnah-lah memperjuangkannya sehingga Pakistan mempunyai wujud.
Kesimpulan
Sayyid Ahmad mencoba memulai peperangan terhadap golongan sikh di India Utara.
Ide yang dimunculkan oleh Sayyid Ahmad ialah merubah sistem pemerintahan dari monarki kepada sistem imamah, yaitu negara dipimpin oleh seorang imam., imam mengangkat seorang khalifah sebagai wakilnya di kota-kota penting.
Diantara tugas mereka yaitu mengumpulkan zakat utnuk pemerintahan imam dan mencari mujahidin untuk meneruskan jihad
Yang menjadi perbedaan faham keagamaan dan politik
Hingga berdirinya Negara Pakistan yang dipelopori oleh Iqbal dan Jinnah, Deoband dan Aligarh telah banyak melahirkan tokoh-tokoh India seperti Sayyid Ahmad Khan, Sayyid Amir Ali, Nawab Muhsin Al-Mulk, Viqar Al-Mulk , Altaf Husain Ali , Chiragh Ali, Maulvi Nazir Ahmad, Muhammad Shibli Nu’mani.
Daftar Bacaan
Risman Abu , Jurnal/Journal from digilib-uinsuka / 2008-08-22 15:26:06, Perpustakaan UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta
Nasution Harun, Pembaharuan dalam Islam Sejarah Pemikiran dan Pergerakan,
Ali Mukti, Alam Pikiran Islam Modern di
www.google.com, Pemikiran Altaf Husain Ali
M. Ridwan Nafisah, Tinjauan Mendasar dalam Semangat Pembaharuan, www. google.com, 2009
Pemikiran Muhammd Shibli Nu’mani, www.google.com
M. Lapidsus Ira, Sejarah Sosial Umat Islam,
[1]Abu Risman Sumber bacaan dapat dilihat Jurnal/Journal from digilib-uinsuka / 2008-08-22 15:26:06, Perpustakaan UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta
[2] Harun Nasution, pembaharuan dalam Islam Sejarah pemikiran dan pergerakan, Bulan Bintang,
[3] Ibid, h.163
[4] Ibid, h. 174-175
[5] Mukti Ali, Alam Pikiran Islam Modern di
[6] Harun., Op.Cit, h. 175
[7] Op.Cit 175-176
[8] Mukti Ali, Op.Cit
[9] Harun, Op.Cit. h.177
[10] www.google.com, Pemikiran Altaf Husain Ali.
[11] Artikel oleh Nafisah M. Ridwan, judul tinjauan mendasar dalam semangat pembaharuan, www. google.com 2009
[12] Harun, Log.Cit, h. 179
[13] Pemikiran Muhammd Shibli Nu’mani, www.google.com
[14] Harun, Log.Cit h. 181
Tidak ada komentar:
Posting Komentar